ketika anda meminta sesuatu, anda tidak akan serta-merta mendapatkanya, cara yang paling mungkin adalah dengan usaha, plus kekuatan doa.mintalah apa yang paling anda inginkan, dan impikan bahwa itu adalah milik anda, maka anda akan memilikinya.

Sabtu, 15 Januari 2011

Aku Bangga dengan Koruptor

Apalagi yang bisa dibanggakan ? gejolak itu terus menghantui dan bahwa tersirat dalam lembaran mimpi-mimpi. Kita memang sedang bermimpi dan mimpi-mimpi itu makin diperindah dengan bunga-bunga yang ditaburkan oleh penguasa. Betapa tidak konon katanya “penguasa” akan memberantas hangus para koruptor. Ratusan mungkin ribuan ungkapan terdengar bahkan buku sakuku tak sanggup menyalin ungkapan serupa akan janji-janji yang dilotarkan.

Sederet aturan dan lembaga memamerkan dirinya untuk mengatakan”Koruptor tidak akan lepas”. Adu ketangkasan diperlukan untuk memperjelas tabur genderang permainan. Waduh… sebuah permainan ?, memang yang muncul lebih banyak sebuah permainan yang disuguhkan dalam sebuah teater besar bernama Indonesia. Dengan lakon dan sutrada; penguasa, politisi, pengusaha bahkan pemain penggiran dari kelompok masyarakat ikut rame memainkan pementasan kolosal maha akbar.

Teater itu sudah berumur puluhan tahun bahkan digelar dalam tahapan Repelita kini berubah menjadi semacam Orde. Sutrada bisa saja merangkap sebagai pemain bahkan sebagai penontonpun tidak diharamkan.

Disaat Orde Baru teater itu dimainkan, hanya sedikit pelaku yang terlibat namun kekuasaan mereka begitu mengakar. Beralih pada sebuah tahapan orde kebanggaan “Reformasi”, teater itu semakin meluas bahkan sangat luas sampai-sampai bangsa ini tetap mempertahankan dirinya sebagai bangsa terkorup didunia dengan berhasil menempatkan diri para urutan lima besar. Bertahan…kita terus bertahan bahkan dalam beberapa tahun ini peringkat kita tidak bergeser.

Kita kaya dengan Sumber Daya Alam…itu katanya. Dalam sebuah kajian justru kekayaanlah yang membuat diri kita terjajah. Kita terlalu bangga dengan apa yang ada disekitar kita namun tidak mau berpikir untuk mengoptimalkan apa yang ada disekitar kita.

Siapa yang dibanggakan ? Sumir..tatkala nilai ukurannya kinerja, belum lagi ketika menghubungkanya dengan moralitas.

Memang…semua berteriak menginginkan perubahan dengan menempatkan moralitas dan kemanusian sebagai panglima kehidupan. Tidak cukup itu aturan sengaja dideretkan untuk mendukung teriakan moralitas tersebut. Peluru tajam dengan senjata supermodern tersebut ternyata tidak meruntuhkan sebuah mentalitas “Korup” yang lebih layak disebut berjamaah. Mengapa ? Korupsi layaknya sebuah budaya baru yang secara tidak langsung mendapat pengakuan dalam masyarakat. Tanpa disadari bahkan mungkin sangat disadari masyarakat kitalah yang menciptakan budaya Korup tersebut. Lihainya pemain yang kerennya disebut Koruptor acapkali adalah panutan dalam masyarakat itu sendiri.

Lucunya.kitapun acapkali membanggakan materi dibandingkan sebuah nilai kehidupan dari apa yang kita panutkan. Lahirlah sebuah Komunitas Hedonisme yang menghambakan Materi dalam indera penglihatannya. Naluri kemanusiaan lenyap seiring dengan perhitungan untung rugi.

Hukum adalah panglima, sebuah semboyan yang patut direnungkan kembali. Jelasnya Hukum adalah milik yang berkuasa dan Berduit. Pemihakan hukum pada wong cilik ibarat sebuah mukjizat dalam teriknya matahari dipadang pasir.

Siapa yang menang ? Koruptor tetap berkibar di Negara kita..bahkan mereka semakin melembaga dalam sebuah komunitas berkuasa seperti Parlemen, Kabinet dan hukum itu sendiri.

Saat ini mereka bisa mengambil apa saja yang ada didepan kita, bahkan bantuan bencanapun mereka serabot. Dari tangan kanan mereka mengalir Derma untuk mendirikan panti asuhan, dari tangan kiripun mereka mengambil apa yang mereka dapat ambil. Didalam mesjid mereka berhotbah, didalam kantor mereka menyunat proyek. Diatas kertas mereka merencanakan penghapusan kemiskinan, didalam lobi mereka menggoalkan proyek fiktif. Didepan pendemo mereka berikrar menghukum koruptor, didepan koruptor mereka bernego nilai kebebasan. Dengan kekuasaan mereka berterima kasih akan banyaknya kasus Korupsi yang dilaporkan, dengan kekuasaan pula mereka mementahkan kasus korupsi tersebut. Disaat musim haji tiba mereka berhaji, disaat pulang mereka menerima amplop kebebasan yang disodorkan koruptor. Mereka bisa menitikkan air mata tatkala bencana tiba namun mereka bisa bersyukur atas bencana tersebut karena proyek akan mengalir dengan sunatan massal yang sudah melembaga.

Apa yang belum terpikir dalam benak kita, sudah terpkir dalam benak para koruptor. Kenapa mereka tidak di organisir dan dioptimalkan saja ? mereka adalah manusia cerdas namun lemah dalam moralitas. Berikan saja sebuah pulau dan tempatkan mereka dalam pulau tersebut, niscaya pulau tersebut dalam waktu relative singkat akan menjadi sebuah negara maju yang mungkin bisa mengalahkan kemajuan negara yang sudah ada saat ini.

Bisa jadi negara lain akan bangrut dan mereka akan bangkit…bukankah mereka ahli dalam segala jenis tipu muslihat. Termasuk melebihi kelicikan Abunawas dalam cerita 1001 malam.

Read more: http://www.resensi.net/aku-bangga-dengan-koruptor/2007/02/#ixzz1B6aI2vsw

3 Hari Dalam Hidup Ini

3 Hari Dalam Hidup Ini
September 20, 2008 · Filed Under Tips Motivasi by Motivator Motivasi
Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…

Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri

Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga

50 Tahun Salah Paham

Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat
senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya
yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu
penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta
seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat
serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang
tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara,
yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan
tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa
dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain
adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang
mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat
terkenal.

“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah
ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya
apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan
segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan,
kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi,” kata sang
pejabat senior dalam pidato singkatnya.

Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak
khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil
piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum
mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala
dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri
menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah
sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana
romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar
isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, iska tangis itu
meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa
bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang
pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan
bertanya “Mengapa engkau menangis, isteriku?”

Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan “Suamiku…sudah 50 tahun
usia pernikahan kita. Selama itu. aku telah dengan melayani dalam duka
dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela
selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh
tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian
yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku
sukai.” tutur sang isteri.

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca
pula, ia berkata kepada isterinya,” Isteriku yang tercinta…50 tahun
yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku
sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah
pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras,
membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Demi Tuhan,
setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan
ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan
emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling
berharga buatmu.”

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi “Walaupun telah
hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita
tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu
bagaimana cara membuatmu bahadia.” Akhirnya, sang pejabat memeluk
isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat
keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua
pasangan tersebut.

Arti cerita diatas:

Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah
selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling
keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan
dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena
seperti menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap
disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus
dan terbuka, dan ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan
semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah
seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa
lebih menyakitkan.

Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan
dilandasi kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan
kebiasaan berpikir positif.