Oleh : Junus Judianto
Karena jasanya kepada negara, seorang bangsawan menerima hadiah dari raja berupa seekor burung dewata yang sangat indah dan langka. Ia sangat bangga dengan hadiah itu dan mengharapkan agar hadiah tersebut dapat menjadi kebanggaan bagi keturunannya. Untuk mengabadikan burung dewata ini tanpa harus menggunakan air keras, ia meminta seorang pelukis ternama untuk membuat lukisan yang sempurna dari si burung dewata kesayangannya.
Si pelukis mengamati burung dewata tersebut dengan seksama, dan mengatakan bahwa ia butuh waktu yang cukup lama untuk dapat menghasilkan sebuah lukisan yang sempurna. Dengan berat hati, bangsawan itu menitipkan burung dewata kesayangannya pada si pelukis.
Satu bulan kemudian, si bangsawan mendatangi si pelukis. Tetapi, si pelukis mengatakan bahwa lukisannya belum selesai dan meminta agar si bangsawan memberi lebih banyak waktu kepadanya.
Ketika si bangsawan kembali datang pada bulan berikutnya, ia sudah tidak sabar membawa pulang lukisan dan si burung dewata untuk dipamerkan kepada semua keluarga dan kerabatnya. Tetapi si pelukis lagi-lagi mengatakan bahwa lukisannya belum selesai dan meminta agar si bangsawan datang kembali satu bulan kemudian.
Bulan berikutnya, saat si pelukis mengatakan ia masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan lukisannya, si bangsawan kehilangan kesabaran dan mulai mengeluarkan kata-kata yang keras bahwa ia sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Si pelukis dengan tenang meminta agar si bangsawan dapat bersabar sebentar. Ia mengeluarkan kanvas serta alat lukisnya, dan dengan gerakan tangan yang sangat cepat si pelukis menggoreskan kuasnya di atas kanvas. Dalam waktu yang singkat, sebuah maha karya lukisan burung dewata yang sempurna sudah selesai.
Sekalipun ia terkagum-kagum oleh keahlian si pelukis, si bangsawan tetap marah karena merasa bahwa ia telah dipermainkan: "Jika engkau dapat membuat lukisan ini dalam waktu yang sedemikian singkat, mengapa engkau membuat aku menunggu sampai berbulan-bulan?"
Si pelukis meminta maaf kepada si bangsawan dan meminta kesediaan si bangsawan untuk membawa lukisan tersebut ke ruang belakang rumahnya. Ternyata dinding di ruang tersebut dipenuhi oleh berpuluh-puluh lukisan si burung dewata. Si pelukis menunjuk kepada lukisan-lukisan yang ada di dinding, dan berkata:"Coba Tuan perhatikan semua lukisan ini. Tak ada satu pun yang seindah lukisan yang sedang Tuan pegang. Selama berbulan-bulan ini aku harus melatih tanganku agar dapat menggerakkan kuas dengan sempurna untuk menghasilkan lukisan yang indah ini."
Pembaca sekalian.
Di balik setiap maha karya atau kesuksesan yang sejati pada bidang apa pun, selalu ada seseorang atau sekelompok orang yang memiliki percaya diri yang tinggi, berkomitmen, rela mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, uang, serta tekun melatih diri untuk mencapai hasil yang terbaik.
Tidak ada jalan pintas yang mudah dan cepat untuk mencapai suatu hasil yang luar biasa. Semua maha karya dan kesuksesan yang sejati didapat melalui proses yang membutuhkan ketekunan dalam belajar dan bekerja. Jadikan kegagalan-kegagalan yang kita alami sebagai latihan untuk mencapai sukses di masa depan.
Selamat mencapai sukses yang luar biasa.
ketika anda meminta sesuatu, anda tidak akan serta-merta mendapatkanya, cara yang paling mungkin adalah dengan usaha, plus kekuatan doa.mintalah apa yang paling anda inginkan, dan impikan bahwa itu adalah milik anda, maka anda akan memilikinya.
Sabtu, 31 Oktober 2009
Waktu Yang Tersisa
Oleh : Andrie Wongso
Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang nenek berumur sekitar 70 tahunan, tiba di rumah sakit dengan tergesa-
gesa, segera dia mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien dokter penyakit dalam , dan tidak
lama kemudian… si nenek berjalan tertatih membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di depan ruang praktek
si dokter untuk memberitahu kedatangannya dan memberikan nomer urut antriannya.
"Suster, sekarang pasien nomer berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu dokter?" Tanya si nenek.
"Tunggu saja nek, nanti dipanggil sesuai nomer urut" jawab si suster begitu saja. Rupanya nenek adalah pasien lama di
sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun menempati bangku, bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran di
panggil. Selang beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah, sebentar-bentar dia melihat ke jam dinding, mulai mondar-mandir
seolah tidak sabar menanti. Diberanikan diri menghampiri suster dan bertanya dengan was-was karena takut si suster marah.
"Masih lama ya sus?" "Ya! Tunggu saja" jawab suster.
Saat giliran nomer urutnya sudah dekat, tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit karena ada pasien gawat yang
harus segera ditangani sang dokter. Bergegas dokter pun pergi meninggalkan ruang prakteknya untuk menolong pasien yang
lebih membutuhkannya. Si nenek dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir.
Kejadian itu memancing reaksi 2 remaja yang juga sedang menunggu di situ, "Si Nenek itu kelihatan gelisah dan tidak
sabaran ya. Sudah setua itu memangnya dia punya kesibukan apa kok menunggu aja tidak sabar begitu" Kemudian ditimpali
oleh temannya, "Iya tuh, udah berumur setua itu, ngapain sih kok maunya buru-buru. Waktu kan masih panjang, belum juga
larut malam".
Dengan tidak terduga oleh kedua remaja tadi, si nenek menghampiri mereka dan menyapa ramah, "Anak muda, nenek mendengar
apa yang kalian bicarakan tentang nenek. Memang nenek kurang sabar menunggu disini tanpa melakukan sesuatu. Justru karena
nenek sudah berumur, nenek tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum sempat nenek lakukan.
Kesadaran bahwa sisa waktu nenek yang tidak banyak inilah maka nenek tidak sabar menunggu di sini terlalu lama tanpa bisa
melakukan apapun. Tentu kalian bisa mengerti kenapa nenek tidak sabar menunggu kan?"
"Oh, iya.. iya nek. Maafkan kami nek. Kami tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga seperti kata nenek.
Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan apa-apa seperti ini.
Terimakasih nenek telah mengingatkan kepada kami".
Pembaca yang berbahagia,
Umur manusia tidak ada seorangpun yang bisa mengukur secara tepat, kapan saat kita lahir dan kapan saat kematian tiba.
Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan
peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai.
Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia
Mari kita manfaatkan waktu dengan optimis dan diarahkan pada sasaran hidup yang menantang, sehingga membuat hidup kita
semakin hidup, penuh gairah dan bahagia!
Salam sukses luar biasa!
Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang nenek berumur sekitar 70 tahunan, tiba di rumah sakit dengan tergesa-
gesa, segera dia mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien dokter penyakit dalam , dan tidak
lama kemudian… si nenek berjalan tertatih membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di depan ruang praktek
si dokter untuk memberitahu kedatangannya dan memberikan nomer urut antriannya.
"Suster, sekarang pasien nomer berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu dokter?" Tanya si nenek.
"Tunggu saja nek, nanti dipanggil sesuai nomer urut" jawab si suster begitu saja. Rupanya nenek adalah pasien lama di
sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun menempati bangku, bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran di
panggil. Selang beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah, sebentar-bentar dia melihat ke jam dinding, mulai mondar-mandir
seolah tidak sabar menanti. Diberanikan diri menghampiri suster dan bertanya dengan was-was karena takut si suster marah.
"Masih lama ya sus?" "Ya! Tunggu saja" jawab suster.
Saat giliran nomer urutnya sudah dekat, tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit karena ada pasien gawat yang
harus segera ditangani sang dokter. Bergegas dokter pun pergi meninggalkan ruang prakteknya untuk menolong pasien yang
lebih membutuhkannya. Si nenek dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir.
Kejadian itu memancing reaksi 2 remaja yang juga sedang menunggu di situ, "Si Nenek itu kelihatan gelisah dan tidak
sabaran ya. Sudah setua itu memangnya dia punya kesibukan apa kok menunggu aja tidak sabar begitu" Kemudian ditimpali
oleh temannya, "Iya tuh, udah berumur setua itu, ngapain sih kok maunya buru-buru. Waktu kan masih panjang, belum juga
larut malam".
Dengan tidak terduga oleh kedua remaja tadi, si nenek menghampiri mereka dan menyapa ramah, "Anak muda, nenek mendengar
apa yang kalian bicarakan tentang nenek. Memang nenek kurang sabar menunggu disini tanpa melakukan sesuatu. Justru karena
nenek sudah berumur, nenek tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum sempat nenek lakukan.
Kesadaran bahwa sisa waktu nenek yang tidak banyak inilah maka nenek tidak sabar menunggu di sini terlalu lama tanpa bisa
melakukan apapun. Tentu kalian bisa mengerti kenapa nenek tidak sabar menunggu kan?"
"Oh, iya.. iya nek. Maafkan kami nek. Kami tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga seperti kata nenek.
Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan apa-apa seperti ini.
Terimakasih nenek telah mengingatkan kepada kami".
Pembaca yang berbahagia,
Umur manusia tidak ada seorangpun yang bisa mengukur secara tepat, kapan saat kita lahir dan kapan saat kematian tiba.
Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan
peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai.
Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia
Mari kita manfaatkan waktu dengan optimis dan diarahkan pada sasaran hidup yang menantang, sehingga membuat hidup kita
semakin hidup, penuh gairah dan bahagia!
Salam sukses luar biasa!
Ulat Kecil Yang Berani
Oleh : Andrie Wongso
Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia
selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan
dan lingkungan yang baru. Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga
suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri
keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.
Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati, "Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah
lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-
jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!"
Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya,
"Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu
bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan
yang lebih baik, kan". Si ulat pun bertanya kepada si kepik yang sok tau, "Benar kepik. Aku memutuskan pergi dari
sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tau, apa yang ada di depan sana?" " oh...Aku tahu, jalan ke depan
yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang
gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang
sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup dengan baik
seperti yang kamu inginkan".
Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu dan ketakutan. "Kepik, apakah tidak ada jalan
pintas untuk sampai ke sana?" Tanya ulat. "Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus
melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah
berjalan.Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!" sambil berteriak penuh
semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.
Pembaca yang budiman,
Memang benar.... kemenangan , kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tau apa yang menjadi keinginannya
sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara2 yang
benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.
Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia sukses berabad abad lampau sampai saat ini
sesuai dengan bidangnya masing2.
Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai
yang akan di capai dan take action! Ambil tindakan!
Salam Sukses Luar Biasa!!!
Andrie Wongso
Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia
selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan
dan lingkungan yang baru. Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga
suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri
keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.
Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati, "Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah
lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-
jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!"
Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya,
"Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu
bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan
yang lebih baik, kan". Si ulat pun bertanya kepada si kepik yang sok tau, "Benar kepik. Aku memutuskan pergi dari
sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tau, apa yang ada di depan sana?" " oh...Aku tahu, jalan ke depan
yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang
gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang
sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup dengan baik
seperti yang kamu inginkan".
Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu dan ketakutan. "Kepik, apakah tidak ada jalan
pintas untuk sampai ke sana?" Tanya ulat. "Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus
melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah
berjalan.Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!" sambil berteriak penuh
semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.
Pembaca yang budiman,
Memang benar.... kemenangan , kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tau apa yang menjadi keinginannya
sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara2 yang
benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.
Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia sukses berabad abad lampau sampai saat ini
sesuai dengan bidangnya masing2.
Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai
yang akan di capai dan take action! Ambil tindakan!
Salam Sukses Luar Biasa!!!
Andrie Wongso
Langganan:
Postingan (Atom)